Refleksi Kondisi Anak Didik

Cerita sebelumnya.

Dalam perjalanan saya nyasar arah balik maka terbayang oleh saya skenario: seorang anak didik (saya sendiri) sedang dimarah-marahi oleh gurunya dan orang tuanya: “Khan sudah diberitahu arah dan caranya berulang-ulang menjawab soal ulangan (anggap saja ini adalah Goal/ Tujuan menuju Gedung DataScrip). Kok masih salah atau tidak bisa!”

Dengan adanya kurikulum yang berubah tiap (n) tahun saya ibaratkan gonta-gantinya Peta. Bisa jadi cara yang diajarkan oleh gurunya adalah benar dan tepat bila si anak didik itu berangkat dari titik awal yang sama. Padahal secara kenyataan tiap anak didik adalah berbeda latar belakang, tingkat sosial, kebudayaan dari daerah, pengalaman, dll. Sehingga apakah mungkin bisa dipaksakan untuk menjawab soal tersebut hanya ada 1 jawaban yang benar? Sering terdengar kekecewaan dari orang tua yang protes masalah jawaban anaknya yang secara logika benar tetapi disalahkan karena berbeda dengan kunci jawaban.

Bayangkan betapa panas-dinginnya si anak bila terus menerus disalahkan dan didorong terus maju, karena ia telah kehilangan arah. Benar ia telah melihat landmark (gedung, nama jalan) yang diibaratkan petunjuk cara guru memecahkan soal. Tapi apakah ia melalui arah yang benar? Misal petunjuk nanti dari depan pintu PRJ ambil arah kanan. Kalau ia datang dari sisi yang salah maka ia bisa saja tetap nyasar. Mungkin ia menemukan jalan buntu karena arah jalan yang ditunjukkan telah ditutup batu atau telah menjadi satu arah (one way), ia kebingungan setengah mati.

Menurut pandangan saya seharusnya kita galakkan adalah learning how to learn, yaitu dengan pendekatan System Thinking Approach dan penggunaan Peta Konsep kepada anak didik sejak dini.

Sehingga ia hanya perlu:

  • ia tahu ada di mana sekarang (bisa dengan pre-test)
  • tujuan akhir pembelajaran (akan bisa apa setelah selesai mempelajari bahan pelajaran)
  • cara menuju ke sana (membaca peta, cara U turn, mengetahui arah dengan bantuan kompas/ lokasi matahari, cara bertanya kepada orang sekitar, dll). Cara mencari bahan bacaan / gambar dari perpustakaan dan/ atau internet, membuat presentasi, membuat makalah, cara berargumentasi yang baik
  • mengetahui apakah sudah sampai ditujuan (dengan post-test, memperlihatkan portofolionya)
  • mengembangkan pilihan (mencari jalan alternatif bila menemukan kebuntuan/ kemacetan)

Mustinya para pembuat kebijakan pendidikan harus turun masuk ke kelas dan mengalami sendiri dengan mengikuti pelajaran. Ibaratnya: memang mudah memberikan petunjuk arah, dengan berkata: “Ah.. itu mah gampang, saya sudah sering lewat situ waktu saya masih sekolah dulu. Pasti sampai dan bisa seperti saya.” Pertanyaannya: apakah kita membicarakan hal dengan Peta yang sama? Oh ya.. kita sama-sama memakai peta tahun 2004 misalnya. Padahal kondisi jalan yang dialami sudah banyak berubah.

Dengan adanya globalisasi, persaingan dengan negara lain semakin membuat kita kedodoran dan tinggal di tempat. Mari kita populerkan Peta Konsep sebagai alat bantu belajar bagi anak-anak kita mulai dari sekarang. Akan saya postingkan cara pembuatan Peta Konsep secara terpisah.