Menemukan Lagi Keping Informasi Tentang Nelayan

Pagi menjelang siang, Pak Tito L, Indonesia Business Today, mengunjungi stand saya di JCC. Saya belajar banyak dari pengalaman beliau. Beliau memberikan lesson learned tentang pengalamannya dengan Pak Franky, IndoFood, untuk usaha mensejahterakan masyarakat nelayan. Perlu pendekatan sosial yang lebih matang untuk merangkul dan memberikan pengertian kepada nelayan dan stake holder lainnya. Ada stasiun pengisian bahan bakarnya yang dibakar oleh preman sekitar, karena mungkin usaha mereka terancam. Bisa jadi ada pihak yang tidak senang kalau para nelayan bisa hidup lebih baik/ sejahtera.

Anak Nelayan Masa Depan

Keping informasi yang saya dapat hari ini adalah sebagai berikut:

  • Teknologi mudah dibeli, yang susah adalah urusan Sumber Daya Manusianya!
  • Nelayan itu dibagi dua kelompok: yang di daratan (yang mengurusi pengolahan ikan tangkapan) dan yang melaut. Yang bisa diajak kerjasama adalah nelayan yang di darat. Sedangkan yang nelayan yang melaut perlu pendekatan khusus.
  • Akibat sudah terbiasa dengan kehidupan yang dekat dengan ikan-ikan yang membusuk, maka diberikan rumah yang lebih layak huni dan lingkungan yang lebih bersihpun mereka tidak terlalu peduli atau care.
  • Sekali melaut butuh dana bahan bakar bisa 500 juta rupiah (ini pengalaman teman Pak Tito yang pernah memiliki armada kapal tangkap laut dalam, tetapi sudah tidak usaha ini lagi).
  • Perlu ada sekolah manajemen agar para investor yang punya dana dan armada tetap bisa survive, karena saat ini para nelayannya belum kooperatif:
    • Di tengah laut mereka menjual Bahan Bakar Minyaknya
    • Mindset nelayan melaut adalah: untuk apa saya menabung, karena besok kalau saya melaut belum tentu selamat? Sehingga bila ada uang mereka cenderung untuk difoya-foyakan (minum-minuman keras, santai-santai, dan lain-lain)
    • Sebentar-sebentar homesick padahal baru melaut 3 minggu (dengan alasan ibunya atau anaknya sakit), bila dibandingkan dengan nelayan Thai Land, China dan Jepang yang bisa melaut sampai 6 bulan di laut terus.
    • Perlu diajarkan fungsinya tabungan, asuransi kesehatan, asuransi pendidikan untuk anak2nya (Dalam The Best Idea Majalah Swa Oktober 2005 lalu, saya memasukkan ide untuk menciptakan sistem koperasi nelayan yang menggunakan kartu ATM sebagai alat pinjam kapal, sebagai pengenal ketika menyetorkan hasil tangkapan di balai lelang ikan, sebagai cicilan iuran asuransi ini itu, dan ia hanya diizinkan boleh pakai 10% dari hasil tangkap sebagai uang hari-hari yang ia boleh pegang/ bawa pulang, sebagian besar dananya untuk keperluan jangka menengah/ panjang, sehingga tidak dihabiskan untuk foya2). Pertanyaannya: apa bisa? Jawabannya: mustinya kalau dari sejak kecil ditanamkan atau diberikan Peta Konsep tentang betapa kompleksnya kehidupannya bila tetap dengan cara hidup lama dan betapa menjanjikannya kehidupannya di masa depan bila ia bisa mengikuti arahan dari para ahli/ pihak yang sebenarnya ingin membantu mereka agar bisa hidup lebih sejahtera.

Sepertinya perlu perubahan paradigma yang dimulai dari anak-anak nelayan, bahwa mereka bisa merubah nasib dan jangan bersikap seperti para pendahulunya (entah orang tuanya, entah pamannya atau kakaknya yang sudah besar). Kalau tidak mulai dari sikap mental mereka sendiri, bagaimana para investor tergerak untuk mengucurkan dana/ bekerjasama?