Thinking Out of The Box (or Mind)

01.45 baru berangkat tidur karena mendesign kartu nama dan standing banner untuk persiapan ikut serta Konferensi 1.000 Guru Indonesia 2007. Entah kenapa saya tidak bisa langsung tertidur. Sudah janji mau ketemu Pak Dwi, manager Snapy, jam 07.00 setelah mendrop anak sekolah.

Pagi, sayangnya di Snapy hanya tersedia Corel Draw X3 sedangkan rancangan saya dalam Photoshop CS2, sehingga terjadi konversi-konversi. Pencetakan 1.000 kartu nama sudah mulai dilaksanakan. Sambil menunggu staffnya mensetup dan menghasilkan proof, saya, istri saya dan pak Dwi terlibat diskusi tentang Impian PKAB. Ia mengomentari: “bagus, anda berpikir secara Out of The Box.” Terus dalam pikiran saya apa itu “The Box“, batasannya apa? Kemudian saya menimpalinya dengan: mungkin saya sudah “Thinking out of the mind”.

Thinking Out of The Box

Banyak ide-ide yang sementara ini saya hasilkan kebanyakan sepertinya “Out of the reach” saat ini, sehingga wajar saja kalau banyak yang mengomentari saya dengan: mimpimu terlalu tinggi dan aneh-aneh saja. Saya berkata ke diri saya sendiri: “Well, mumpung mimpi masih gratis dan tidak menyusahkan orang. Go ahead, man!” Sering saya baca juga istilah: “untuk berhasil di jaman saat ini harus menjadi gila” atau “hanya orang gila saja yang bisa lakukan terobosan.” Saya pikir selama saya masih bisa berpikir lurus dan logis, mustinya saya belum sampai taraf gila betulan. 😛

Saya dan istri sempat diajak melihat-lihat ruko 3 lantainya, mendiskusikan penjajakan kemungkinan bekerja sama. Karena ia telah memiliki 8 komputer internet connected di lantai 2, yang dioperasikan sebagai warnet dan office rental. Saya kemudian bertemu dengan Ibu Atiek yang sudah banyak pengalaman dalam menjalankan LSM, mendirikan yayasan, dan perusahaan. Saya belajar banyak dari Ibu Atiek mengenai seluk beluk pendirian yayasan, ia akan mengkontakkan teman notaris langganannya. Saya diminta untuk memikirkan siapa-siapa yang bisa diajak kerjasama untuk menjadi pembina, pengawas, sekretaris dan bendahara (syarat personil minimum).

Menjelang siang, saya ke tempat pencetakan spanduk outdoor. Bertemu dengan Pak Irwan, pemilik GlaD, ternyata ia masih muda. Saya dibantu oleh rekan kerjanya untuk merapihkan fill colour-nya karena awalnya gambar-gambarnya ukuran kecil dan dipaksa (blown up) untuk ukuran 80 x 180 cm2.